Thursday, 23 May 2013

IRIGASI SPRINKLER ATAU SPRINKLER IRRIGATION

Banyak sistem irigasi yang dapat diterapkan di lahan pertanian di Indonesia. Umumnya digunakan sistem irigasi permukaan (surface irigation). Sistem irigasi permukaan sudah lama dikenal dan di terapkan di negara kita. Jika dulu sistem irigasi ini diterapkan karena jumlah air di lahan pertanian masih banyak, sedangkan sekarang air yang ada di lahan pertanian sudah semakin berkurang. Jika tetap menggunakan sistem irigasi permukaan maka penggunaan air akan banyak sementara jumlah air sedikit sehingga lahan tidak bisa produktif. Untuk mengatasi hal itu maka perlu diterapkan sistem irigasi yang efektif dan efisien salah satunya adalah sistem irigasi sprinkler.
Irigasi Sprinkler (Sprinkler or spray Irrigation) adalah suatu metode pemberian air ke seluruh lahan yang akan diirigasi dengan menggunakan pipa yang bertekanan melalui nozzle. Sistem sprinkler dapat diklasifikasikan menjadi system permanent (Fixed/solid set), portable dan semi portable (hand move atau mechanical move), traveling irrigator (gun atau boom), center pivot atau linear move.
Irigasi Sprinkler adalah suatu system irigasi yang fleksibel dimana selain dapat digunakan untuk menyiram tanaman juga dapat digunakan untuk pemupukan dan pengobatan dan untuk menjaga kelembaban tanah dan mengontrol kondisi iklim agar sesuai bagi pertumbuhan tanaman.
Adopsi dari system sprinkler ini tergantung pada keuntungan ekonomis dan lingkungan yang akan didapatkan dibandingkan dengan system irigasi yang lain. Sistem sprinkler sekarang ini digunakan untuk berbagai jenis tanaman terutama komoditas yang bernilai tinggi seperti buah-buahan, sayuran dan digunakan pada berbagai jenis lahan dan topografi.

Sistem irigasi sprinkler cocok untuk semua jenis tanah apabila application ratenyasesuai dengan kapasitas inflitrasi tanahnya. Termasuk juga pada lahan marginal yang memiliki kapasitas infitrasi atau kapasitas menyimpan air yang rendah.

  • Dapat mengontrol pemberian air pada tanaman sehingga dapat mengurangi tingkat pertumbuhan tanaman yang vegetatif dan memperbesar peluang tanaman untuk tumbuh secara generatif dimana akan meningkatkan produktivitas hasil panen.
  • Desain dapat dirancang secara fleksibel sesuai dengan jenis tanaman, tenaga kerja yang tersedia dan penghematan energi
  • Dapat dilakukan fertigation atau pemberian nutrisi tanaman melalui system irigasi
  • Dapat digunakan untuk mengontrol iklim bagi pertumbuhan tanaman
  • Dapat menjaga tanah tetap lembut agar cocok bagi pertumbuhan seedling (persemaian)
  • Mempercepat perkecambahan dan penentuan panen
Sistem Irigasi Sprinkler ini juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya
  • Memerlukan biaya investasi yang tinggi
  • Keseragaman distribusi air dapat terus menurun seiring dengan waktu
  • Angin sangat berpengaruh atas keseragaman distribusi air
  • Dapat mengakibatkan kanopi tanaman lembab dan mendatangkan penyakit tanaman
 sumber: kabar agro


  • Dapat merusak tanaman muda pada saat air disiramkan

ALL ABOUT SOIL SCIENCE

Soil science is the study of soil as a natural resource on the surface of the earth including soil formation, classification and mapping; physical, chemical, biological, and fertility properties of soils; and these properties in relation to the use and management of soils.[1]
Sometimes terms which refer to branches of soil science, such as pedology (formation, chemistry, morphology and classification of soil) and edaphology (influence of soil on organisms, especially plants), are used as if synonymous with soil science. The diversity of names associated with this discipline is related to the various associations concerned. Indeed, engineers, agronomists, chemists, geologists, physical geographers, ecologists, biologists, microbiologists, sylviculturists, sanitarians, archaeologists, and specialists in regional planning, all contribute to further knowledge of soils and the advancement of the soil sciences.
Soil scientists have raised concerns about how to preserve soil and arable land in a world with a growing population, possible future water crisis, increasing per capita food consumption, and land degradation.[2]

PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF

Perbanyakan  tanaman secara vegetatif merupakan suatu perbanyakan tanaman dengan menggunakan organ tanaman selain dari hasil persilangan antara gamet jantan dengan gamet betina. Bagian vegetatif yang dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman antara lain adalah batang,, cabang, ranting, mata tunas, akar cabang, atau juga anakan tanaman. Prinsip dari perbanyakan secara vegetatif adalah merangsang pertumbuhan tunas adventif pada organ non reproduksi agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus. 
Perbanyakan vegetatif pada tanaman dapat dilakukan karena setidaknya tanaman memiliki dua sifat dasar sel, totipotensi dan dediferensiasi. Totipotensi adalah di dalam sel-sel tanaman terdapat informasi genetik yang diperlukan untuk merekonstruksi kembali semua fungsi dan bagian-bagian tanaman. Dediferensiasi adalah kemampuan sel dewasa untuk kembali menjadi bersifat meristematik dan membentuk titik tumbuh baru. 
Menurut Sulistyaningsih dan Rabaniyah (2006), perbanyakan vegetatif dilakukan paling tidak karena 7 hal: 
1. Sangat berguna untuk kultivar tanaman yang menghasilkan biji yang tidak fertil/subur seperti pada pisang, kurma, dan beberapa jenis anggur. 
2. Hasil perbanyakan vegetatif memiliki kecenderungan anakan yang sama dengan induknya, bak dari segi kalitas hasil ataupn dari kuantitas hasil. 
3. Untuk mempertahankan bentuk atau sifat tertentu tanaman, misalnya mempertahankan sifat juvenilitas tanaman. 
4. Tanaman dalam jumlah banyak diperoleh dengan waktu yang relatif singkat. 
5. Memelihara klon tanaman karena perbanyakan vegetatif memiliki materi genetis yang relatif seragam. 
6. Akan lebih mudah karena terdapat biji-biji yang sifatnya dorman. 
7. Tanaman asal biji masa juvenilnya lama sehingga pada tanaman buah akan menghasilkan buah dalam jangka waktu yang lama setelah penanaman. 
Berdasarkan caranya, perbanyakan vegetatif dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu vegetatif alami dan vegetatif buatan. Pemilikhan cara perbanyakan ini sangat ditentukan oleh jenis tanaman, jenis bahan, dan juga tujuan perbanyakan. Perbanyakan vegetatif alami adalah perbanyakan dengan organ selain biji yang bentuknya sudah sempurna, yaitu anakan, umbi, koemus, rizom, apomixis, dan lain sebagainya. Perbanyakan vegetatif buatan adalah perbanyakan vegetatif yang dilakukan karena bahan tanam belum mempuyai perlengkapan untuk hidupnya lebih lanjut. Oleh karena itu, perlu diinduksi organ-organnya agar terbentuk tanaman sempurna. Perbanyakan vegetatif buatan biasa dilakukan dengan cara stek, cangkok, okulasi, kultur jaringan, sambung pucuk, dan lain sebagainya. 
Referensi: 
Hartman, H and D.E. Kester. 1986. Plant Propagation: Principles and Practices. Prentice Hall of India, New Delhi. 
Joesoef, M. 1989. Penuntun Berkebun Jeruk. Bharata, Jakarta. 
Santosa. 2008. Perbanyakan vegetatif tanaman jarak pagar. Buletin Agro 2: 45-50. 
Sulistyaningsih. E dan R. Rabaniyah. 2006. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

PERBAIKAN MUTU TANAMAN DENGAN MANIPULASI KROMOSOM

Populasi penduduk dunia diprediksi pada tahun 2010 berjumlah kira-kira 8 milyar orang. Untuk penyediaan pangan pada tahun tersebut diperlukan peningkatan produksi tanaman. Makanan sangat esensial untuk pemeliharaan kehidupan yang langgeng. Pada suatu negara bidang pertanian menjadi hal penting dan menjadi dasar bagi penyediaan pangan bagi penduduknya.

Pemuliaan tanaman konvensional bekerja untuk memperbaiki kualitas dan peningkatan hasil suatu tanaman dengan berbagai teknik perbaikan tanaman dan berhasil dengan adanya “Revoluasi Hijau”. Di antra 3000 spesies tanaman yang digunakan sebagai makanan, hanya 29 spesies tanaman sebagai sumber makanan utama. Spesies tersebut antara lain 8 spesies sereal, 7 legum, 7 berbiji minyak, 3 tanaman yang berakar, 2 tanaman sumber gula, dan 2 tanaman pohon. Sebagai tambahan ada kira-kira 15 spesies utama tanaman sayur-sayuran dan 15 spesies utama tanaman buah-buahan. Spesies-spesies tanaman tersebut digunakan sebagai sumber protein, kalori, vitamin, dan mineral bagi manusia.

Namun dengan perkembangan kemajuan manusia dan tekanan pertambahan penduduk dunia, permintaan akan pangan akan semakin meningkat baik dari segi kualitas dan kuantitas. Teknologi perbaikan tanaman yang semakin cepat dan maju membuat kita optimis bahwa teknologi dapat menyediakan kebutuhan penduduk dunia tersebut.

Hukum Genetik Mendel’s (1864) menjadi motor penggerak dimulainya pemuliaan tanaman yang lebih terarah. Prinsip pemuliaan tanaman adalah identifikasi dan seleksi suatu sifat yang diinginkan dan selanjutnya dikombinasikan ke dalam suatu individu tanaman. Semua sifat yang diinginkan dikendalikan oleh gen yang berlokasi pada khromosom tanaman, pemuliaan tanaman berarti melakukan pekerjaan manipulasi kromosom.


Pada umumnya ada 4 cara manipulasi khromosom :
1. Khromosom yang sama diambil dan diletakkan dalam suatu individu tanaman untuk memperoleh suatu homozogositas, metode tersebut disebut pure-line selection.
2. Khromosom yang berbeda digabungkan untuk memperoleh suatu heterozigositas, metode ini disebut hibridisasi.
3. Variabilitas genetik baru diperoleh dengan mutasi spontan atau dengan
mutasi buatan (secara fisik dan kimiawi).
4. Polypoidi, yaitu teknik meningkatkan jumlah ploidi suatu tanaman sehingga
tanaman dapat berbuah lebih besar, lebih tinggi dan lain-lain.
Hasil yang diperoleh dengan kegiatan-kegiatan pemuliaan di atas adalah ditemukannya gendum dan padi yang berproduksi lebih tinggi (tahun 1960). Produksi tanaman makanan tersebut telah menyelamatkan manusia dari kekurangan pangan (Green Revolution) dan sangat berdampak terhadap sosial, ekonomi, dan status nutrisi manusia. Namun demikian, diperolehnya tanaman yang berproduksi tinggi tersebut sangat tergantung kepada pemupukan, irigasi, dan input teknologi lainnya yang tinggi.
.
Perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan melalui modifikasi genetik baik dengan persilangan tanaman secara konvensional ataupun dengan bioteknologi melalui rekayasa genetik. Kehadiran teknologi transformasi memberikan wahana baru bagi pemulia tanaman untuk memperoleh kelompok gen baru yang lebih luas.
Gen yang ditransfer kedalam genom suatu tanaman untuk membentuk tanaman transgenik bisa berasal dari spesies lain seperti bakteri, virus, atau tanaman lain.Gen yang diperoleh dengan jalan sintesis secara kimia juga berhasil ditrasnformasikan ke tanaman. Pada dasarnya gen yang ditransfer tersebut haruslah gen yang bermanfaat yang belum ada atau belum dipunyai tanaman. Teknik rekayasa genetik dapat digunakan sebagai mitra dan pelengkap teknik pemulian tanaman yang sudah mapan dan telah digunakan selama bertahun-tahun.
Rekayasa genetika memiliki potensi sebagai yang ramah lingkungan. Selain ramah lingkungan, teknologi rekayasa genetik diharapkan akan dapat membantu mengatasi masalah pembangunan pertanian yang tidak dapat dipecahkan secara konvensional. Sebagai contoh, dalam rangka meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah, salah satu kendala utamanya adalah faktor biotik, seperti hama dan penyakit. Melalui rekayasa genetik sudah dihasilkan tanaman transgenik yang memiliki sifat baru seperti ketahanan terhadap hama, penyakit, atau herbisida, atau peningkatan kualitas hasil. Tanaman tersebut sudah banyak ditanam dan dipasarkan diberbagai negara. Disamping hal positif dari tananman transgenik, terdapat kekhawatiran sebagai masyarakat bahwa tanaan transgenik tersebut akan menggangu, merugikan dan membahayakan bagi keanekaragaman hayati, lingkungan, dan kesehatan manusia. Kekhawatiran tersebut bisa anggapan bahwa tanaman hasil rekayasa genetik dapat memenidahkan gen kerabat liar dan menjadi gulma super, menimbulkan dampak negatif bagi serangga berguna, menyebabkan alergi, ataukeracunan, atau bahwa bakteri di dalam perut menjadi resisten terhadap antibiotik akibat penggunaanmarka tahan antibiotik dalam tanaman transgenik.
Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi dan kajian teknis aspek tanaman hayati sebelum produ rekayasa genetik digunakan dan komersialisasikan. Sehubungan dengan kebutuhan  tersebut telah dikeluarkan Keputusan Menteri Pertanian No: 856/Kpts/HK. 330/9/1997 tentang Ketentuan Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Pertanian Hasi Rekayasa Genetik. Karena di dalam Keputusan Menteri Pertanian tersebut belum mencakup aspek keamanan pangan maka telah ditetapkan Keputusan Bersama Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Menteri Kesehatan, danMenteri Negara Pangan dan Horitulkutura tentang tanaman keamanan hayati dan keamanan pangan yang telah ditandatangani pada 29 September 1999.
Dalam makalah ini akan diuraikan tentang status penelitian dan pengembangan rekayasa genetik tanaman, persepsi masyarakat terhadap tanaman transgenik dan manfaatnya, kekhawatiran terhadap tanaman transgenik, pengaturan kemanan pangan di negara lain, peraturan keamanan hayati dan keamanan pangan di Indonesia, serta pengujian keamanan hayati tanaman transgenik. Salah satu kendala utama dalam rangka meningkatkan produksi tanaman pertanian guna memenuhi kebutuhan penduduk yang selalu bertambah, adalah faktor biotok, seperti hama dan penyakit tanaman. Perakitan tanaman tahan hama atau penyakit secara konvesional dapat dilakukan melalui pemulian tanaman, tetapi pada beberapa jenis komuditas sumber gen ketahanan sulit diperoleh bahkan tidak di jumpai pada plasma nutfah yang tersedia. Dalam upaya membantu memecahkan masalah tersebut, bioteknologi melalui rekayasa genetik menawarkan suatu alternatif terobosan teknologi yang sangat menarik. Karena melalui rekayasa genetik dapat membuka peluang untuk mengisolasi gen ketahanan dari organisme lain seperti bakteri,virus atau bahkan tanaman yang secara konvensional tidak mungkin dilakukan. Kemudian gen yang sudah dikontritruksikan bisa dipindahkan kedalam tanaman budidaya yang diinginkan.

2. Tahapan Teknologi
Dalam memproduksi tanaman transgenik melibatkan beberapa langkah dalam teknik biologi molekuler dan seluler. Suatu sifat yang diinginkan harus dipilih dan gen yang mengatur sifat tersebut harus dididentifikasi. Apabila gen yang diinginkan harus dipilih dan gen yang mengatur sifat tersebut harus diidentifikasi. Apabila gen yang diinginkan belum tersedia, maka harus diisolasi dari organisme donor.
Supaya gen tersebut dapat berfungsi maka harus dimodifikasi secara molekuler, yaitu harus mengandung daerah pengaturan (regulatory region), sehingga dapat diekspresikan pada tanaman dengan tepat dan benar. Gen yang sudah diisolasi harus dikontruksi dalam suatu vector plasmid untuk ditransfer ke tanaman secara langsung via partikle bombardment atau tidak langsung dengan media vector Agrobacterium. Plasmid yang digunakan untuk transformasi tanaman tidak hanya mengandung gen dari sifat yang diinginkan tetapi gen marka (gen penanda) untuk seleksi, seprti gen ketahanan terhadap antibiotik atau herbisida. Gen marka tersebut akan memudahkan seleksi sel atau jaringan yang ditransformasi.
Agar transfer gen berhasil, maka gen yang dimasukkan ke tanaman harus dapat diinsersikan ke genom tanaman, terekspresi, dan tetap terpelihara dalam seluruh proses pembelahan sel selanjutnya. Selanjutnya sel atau jaringan tanaman yang ditransformasi harus dapat diregenerasikan menjadi suatu tanaman.
Regenerasi tanaman dapat dilakukan dengan cara organogenesis atau embriogenesis. Regenerasi tanaman merupakan langkah yang paling sulit dilakukan. Tanaman transgenik yang diperoleh harus dikarekterisasi secara molekuler untuk mengkonfirmasi integritas gen yang dimasukkan dan menentukan jumlah kopinya di dalam genom tanaman. Karekterisasi secara biokimia diperlukan untuk mengetahui ekspresi gen tersebut. Setelah tahapan tersebut, tanaman diuji di laboratorium dan rumah kaca untuk mengetahui karakterisasi sifat yang diinginkan.

3. Sumber Gen
Pemulian tanaman konvensional memiliki keterbatasan, yaitu sumber donor gen haruslah berasal dari tanaman yang secara persilangan harus kompatibel. Seringkali sumber gen yang diinginkan terbatas atau sering tidak dijumpai pada plasma nutfah yang tersedia. Bioteknologi melalui rekayasa genetika dapat mengatasi kendala tersebut. Isolasi gen dari organisme lain seperti bakteri, virus dan lain-lain dapat dilakukan dengan mudah. Gen yang berasal dari luar spesies bahkan dari luar kingdom yang sudah sudah dikontruksi dengan teknologi DNA rekombinan dapat dimasukkan ke dalam tanaman budidaya.
Sejumlah gen yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan tanaman melalui rekayasa genetik adalah gen ketahanan terhadap cekaman lingkungan biotik maupun abiotik, dan gen untuk modifikasi kualitas produk tanaman. Penelitian transformasi untuk memproduksi tanaman tahan serangga hama dan penyakit difokuskan pada protein-protein yang mengandung kode gen tunggal. Beberapa contoh gen ketahanan terhadap hama atau penyakti adalah gen Bt, proitenase inhibitor, cowpea trypsin inhibitor, kitinase, coat protein virus. Gen-gen yang mengatur ketahanan tersebut bersifat tunggal, sehingga lebih mudah dimasukkan ke dalam tanaman.
Gen phosphinotricin acetyl transferase (PAT) diisolasi dari Streptomyces hygroscopicus dan gen 5-enolpyruvylshikimate-3-phosphate synt5hase (EPSPS) dari bakteri Klebsiella pneumonial digunakan untuk mentransformasi tanaman toleran terhadap herbisida. Gen metallothionen-II digunakan untuk memperoleh tanaman  yang tahan terhadap logam berat. Gen mannitol-1-phosphate dehydrogenase digunakan untuk memperoleh tanaman yang tahan terhadap salinitas. Gen yang mengkode methionine rich seed protein dimanfaatkan untuk meningkatkan kandungan methionin pada tanaman kedelai. Pendekatan teknologi antisense digunakan untuk menunda pemasakan buah dan perubahan warna pada bunga.

4. Teknik Transfer Gen
Teknologi pemindahan gen atau transfer gen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu langsung dan tidak langsung. Contoh transfer gen secara langsung adalah perlakuan pada protopplas tanaman dengan eletroporasi atau dengan polyethyleneglycol (PEG), penembakan eksplan gen dengan gene gun atau di vortex dengan karbit silikon. Teknik pemindahan gen secara tak langsung dilakukan dengan bantuan bakteri Agrobacterium Dari banyak teknik transfer gen yang berkembang, teknik melalui media vektor A. tumefaciens paling sering digunakan untuk metransformasi tanaman, terutama tanaman kelompok dikotil. Bakteri ini mampu mentransfer gen kedala genom tanaman melalui eksplan baik yang berupa potongan daun (leaf disc ) ata bagain lain dari jaringan tanaman yang mempunyai potensi beregenerasi tinggi.
Gen yang ditransfer terletak pada plasmid Ti (tumor inducing ). Segmen spesifik DNA plasmid Ti disebut T-DNA (transfer DNA ) yang berpindah dari bakteri ke inti sel tanaman dan berintegrasi kedalam genom tanamn. Karena A. tumefaciens merupakan patogen tanaman maka Agrobacterium sebagai vektor yang digunakan untuk transformasi tanaman adalah bakteri dari jenis plasmid Ti yang dilucuti virulensinya (disarmed), sehingga sel tanaman yang ditransformasi oleh Agrobacterium dan yang mampu beregenerasi akan membentuk suatu tanaman sehat hasil rekayasa genetik. Teknik transformasi melalui media vector Agrobacterium pada tanaman dikotil telah berhasil dengan baik tetapi sebaliknya tidak umum digunakan pada tanaman monokotil. Namun beberapa peneliti telah melaporkan bahwa beberapa strain Agrobacterium berhasil metransformasi tanaman monokotil seperti jagung dan padi.

5. Elektroporasi
Metoda transfer DNA yang umum digunakan pada tanaman monokotil adalah elektroporasi dari protoplas, perlakuan polythyleneglycol (PEG ) pada protoplas dan kombinasi anatara dua perlakuan tersebut diatas. PEG memudahkan presipitasi DNA dan membuat kontak lebih baik dengan protoplas, juga melindungi DNA plasmid mengalami degradasi dari enzim nuclease. Sedangkan elektroporasi dengan perlakukan listrik voltase tinggi meyebabkan permiabilitasi tinggi untuk sementara pada membran sel dengan membentuk pori-pori sehingga DNA mudah penetrasi kedalam protoplas. Integritas membran kembali membaik seperti semula dalam beberapa detik sampai semenit setelah perlakuan listrik. Jagung dan padi telah, berhasil dengan sukses ditransformasi melalui elektorporasi dengan efisien antar 0,1 – 1 %. Salah satu kelemahan penggunaan protoplas sebagai eksplan untuk transformasi adalah sulitnya regenerasi dari protoplas, dan variasi somaklonal akibat panjang periode kultur.

6. Particle bombardment
Teknik paling modern dalam transformasi tanaman adalah penggunaan metoda gene gun atau partikle bombardment. Metode transfer gen ini dioperasikan secara fisik dengan menembakkan partikel DNA-coated langsung ke sel atau jaringan tanaman. Dengan cara partikel dan DNA yang ditambahkan menembus dinding sel dan membran, kemudian DNA melarut dan tersebar dalam secara independen. Telah didemonstasikan bahwa teknik ini efektif untuk metransfer gen pada bermacam– macam eksplan. Penggunaan partikle bombardment membuka peluang dan kemungkinan lebih muda dalam memproduksi tanaman transgenik dari berbagai spesies yang sebelumnya sukar ditransformasi dengan Agrobacterium, khususnya tanaman monokotil seperti padi, jagung, dan turfgrass.

7. Silicon carbide
Metoda transfer gen lain yang kurang umum digunakan dalam transformasi tanaman tetapi telah dilaporkan berhasil mentransformasi jagung, dan turfgrass adalah penggunaan karbit silikon (silicon carbide ). Suspensi sel tanaman yang akan ditransformasi dicampur dengan serat silicon carbide dan DNA plasmid dari gen yang diinginkan dimasukkan kedalam tabung Eppendorf, kemudian dilakukan pencampuran dan pemutaran dengan vortex. Serat silicon carbide berfungsi sebagai jarum injeksi mikro (microinjection ) untuk memudahkan transfer DNA kedalam sel tanaman.

Kesimpulan
  1. Teknologi perbaikan tanaman dengan teknik rekayasa genetika dapat membantu teknik pemuliaan konvensional untuk menghasilkan tanaman dengan karakter kulitas dan kuantitas yang diinginkan.
  2. Jaminan (dengan analisis resiko, seperti produk teknologi lainnya) bahwa satu produk transgenik itu aman dikonsumsi dan dampaknya terhadap lingkungan harus dikeluarkan oleh pengambil kebijakan.


Daftar Pustaka

Bennet, J. 1993. Genes for crop improvements. Genetik Engineering 16 : 93-113.
Herman, M. 1996. Rekayasa genetik untuk perbaikan tanaman. Buletin AgroBio Vol.
I. No. 1. balitbio Tan. Pangan.
Edy Batara Mulya Siregar. 2002. Crop Improvement Via Genetik Engineering. Sumatera Utara: USU

biosejati






manipulasi khromosom.

What is agronomy?

Agronomy is the science and technology of producing and using plants for food, fuel, fiber, and reclamation. Agronomy encompasses work in the areas of plant genetics, plant physiology, meteorology, and soil science. Agronomy is the application of a combination of sciences like biology, chemistry, economics, ecology, earth science, and genetics. Agronomists today are involved with many issues including producing food, creating healthier food, managing environmental impact of agriculture, and creating energy from plants.[1] Agronomists often specialize in areas such as crop rotation, irrigation and drainage, plant breeding, plant physiology, soil classification, soil fertility, weed control, insect and pest control.

AGRONOMI, APA ITU?

Adalah satu cabang ilmu terapan dalam biologi yang mempelajari pengaruh berbagai aspek biotik dan abiotik terhadap suatu individu atau sekumpulan individu tanaman untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Cakupan aspek biotik meliputi individu itu sendiri, individu lain yang sejenis, atau individu lain yang berbeda jenis. Cakupan aspek abiotik meliputi semua komponen tidak hidup yang memengaruhi kehidupan individu yang dipelajari, seperti tanah, cuaca dan iklim, topografi, dan kebijakan ekonomi-politik.

Orang sering menyamakan agronomi dengan ilmu pertanian (dalam arti sempit: hanya untuk tanaman). Agronomi lebih khusus mempelajari teknik bercocok tanam atau budidaya tanaman.

wikipedia